mediBlog

Medison Simbolon

Seberapa Hebatkah Pengalaman/Senioritas Itu? Pesan Buat Karyawan di Hari Pertama Bekerja

with 14 comments

Sebagai seseorang yang baru tamat sekolah/kuliah dan ingin mendapatkan penghasilan tetap, mungkin Anda mencoba dengan membaca lowongan-lowongan pekerjaan. Bisa di koran, bisa di internet atau di mana saja. Mungkin beberapa dari Anda memiliki prestasi di sekolah. Ada yang juara kelas, ada yang pernah memenangkan kompetisi, memiliki IP yang ‘kinclong‘ dan sebagainya. Namun, pada saat Anda melihat lowongan-lowongan tersebut, 99% mengatakan ‘dibutuhkan yang memiliki pengalaman… (bla bla bla)’. Anda pun mulai bingung. Anda baru saja tamat, punya pengalaman kerja dari mana? Walaupun mereka menulis ‘yang baru tamat sekolah/kuliah juga dipersilahkan melamar’, tapi yah… begitulah.🙂

Dulu, pada saat saya di posisi itu, saya merasa kecil sekali. Saya melihat orang-orang yang sudah bekerja sepertinya hebat-hebat. ‘Wah, mereka berpengalaman, pasti kemampuannya bagus-bagus’, begitu pikiran saya. Namun, saya tetap kuatkan diri. Saya yang berasal dari Medan dan melanjutkan pendidikan di Bandung, mencoba bertarung ke Jakarta. Kenapa Jakarta? Karena, saya lihat di Jakarta pertarungannya sangat sengit untuk mencari pekerjaan. Saya harus menguji kemampuan saya. Singkat cerita, saya berhasil mendapatkan pekerjaan di beberapa kantor di ibukota tercinta kita itu. Ada kantor yang masih kecil, ada juga kantor yang sudah cukup berkembang. Bahkan saya juga pernah berkesempatan mencicipi bekerja di Kuala Lumpur dan Singapura. Nah, dari pengalaman tersebut, apa yang bisa saya ceritakan?

Ternyata, saya tidak melihat hubungan yang besar antara pengalaman dan kontribusi dalam bekerja. Saya sudah melihat orang yang sudah tua, berpengalaman puluhan tahun, pernah bekerja di luar negeri pula, tapi kontribusinya nol besar. Saya juga sudah melihat orang yang relatif muda namun berpengalaman kerja sekitar 3 tahun, kontribusinya sama saja, nol besar. Saat saya ngobrol dengan teman, ternyata mereka juga melihat ‘fenomena’ yang sama. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Apa artinya kontribusi nol besar? Artinya, dari sudut pandang perusahaan, orang tersebut tidak produktif alias tidak berguna.

Kenapa itu bisa terjadi? Ternyata, orang-orang tersebut sangat bangga dengan jumlah pengalaman kerja yang bisa mereka tuliskan di CV. Semakin banyak jumlah tahun yang bisa mereka tuliskan, semakin besar kepala pulalah mereka. Mereka tidak melihat bahwa berkontribusi itu penting. Mereka tidak melihat ada gunanya kalau berkembang. Mereka sudah cukup puas dengan pendapatan dan status mereka sebagai ‘senior’, jadi mereka membatasi diri mereka. Mereka sudah dapat apa yang mereka mau, tanpa harus bekerja lebih giat. Beberapa bahkan memang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, walaupun mereka sudah bekerja cukup lama. Kalau diajak untuk bekerja lebih keras, mereka mengatakan ‘Itu bukan pekerjaan kita. Kita tidak dibayar untuk itu..’. Dalam hati saya berpikir ‘Anda juga tidak dibayar untuk duduk-duduk Facebook-an pakai internet kantor, bukan?’. Mereka, sebagai ‘senior’, enggan bergerak, apalagi jika digerakkan oleh ‘orang baru’.

Nah, jika Anda terjebak dalam kondisi seperti itu, apa yang tidak boleh Anda lakukan? Anda tidak boleh merendahkan standar Anda sehingga menyamai mereka. Hal itu hanya akan membuat mereka merasa mereka tetap didengar, sehingga mereka tidak akan pernah tergerak untuk berkembang. Perusahaan akan melihat Anda sama seperti mereka… tidak berguna. Kalau orang-orang pemalas tersebut adalah atasan Anda, Anda tidak boleh menunggu perintah darinya, karena bisa jadi perintah tersebut tidak pernah datang. Anda harus lebih proaktif. Anda harus menanamkan dalam benak Anda satu kalimat ‘Saya harus berkontribusi!’. Mungkin beberapa orang akan mengatakan Anda cari perhatian, tapi tak apa. Mereka hanya mencoba merendahkan semangat Anda. Jangan tergoda. Mungkin ada juga yang bilang ‘Naikkan dulu gaji saya, baru saya mau bekerja.’. Itu juga tidak boleh. Anda hanya boleh meminta sesuatu kalau Anda sudah memberi banyak terlebih dahulu.

Kalau begitu, apa yang harus Anda lakukan? Lawan! Bentuk perlawanannya seperti apa? Bebas, asal positif. Kalau saya, saya tetap bekerja lebih dari yang diminta. Saya tetap merasa harus berkontribusi, walaupun pendapatan dan posisi saya tidak ‘mendukung’ saya untuk itu. Saya lebih memilih mengkritik lewat perbuatan, walaupun pada akhirnya saya tahu, mengkritik lewat perbuatan juga tidak ampuh kalau memang orang-orang tersebut tidak kena batunya. Tapi, saya diam saja dan tetap bekerja. Alhasil, dalam waktu singkat prestasi saya sudah dikenal sampai ke atasan saya di luar negeri. Bahkan sampai ke level General Manager sekalipun. Saya dipanggil oleh tim-tim lain untuk membantu pekerjaan mereka, bahkan kadang diminta untuk melatih orang-orang baru mereka. Untuk meng-install aplikasi ke client, saya dipanggil juga. Saya bahkan diajak ikut rapat dengan para petinggi di perusahaan tersebut, di kantor pusatnya di luar negeri. Jangan lupa, waktu itu saya masih tergolong ‘junior’. Pengalaman bekerja saya waktu itu masih di bawah 1 tahun. ‘Senior’ saya yang sudah 3 sampai puluhan tahun bekerja, yang di dalam maupun yang di luar negeri, tidak pernah kebagian tanggungjawab seperti itu.

Pada dasarnya, kalau Anda bekerja dengan hati, dengan niat yang kuat bahwa Anda ingin berkembang dan berkontribusi, Anda akan berkembang. Nah, bagaimana dengan gaji atau posisi? Sedihnya, bisa jadi tidak berubah.🙂 Tapi jangan lupa, Anda harus terus mengembangkan kemampuan. Kalau Anda sudah berhasil membuktikan diri, Anda berhak meminta sesuatu yang lebih. Anda sudah punya kekuatan. Apa jadinya kalau permintaan Anda tidak dipenuhi? Pindah. Kalau ternyata Anda masih terjebak dalam kondisi yang sama, pindah lagi. Cara lain, ya Anda buka perusahaan sendiri, seperti saya sekarang ini.🙂

Jadi, kesimpulannya, kalau memang Anda berkualitas, jangan takut dipecat. Banyak perusahaan yang mau memakai jasa Anda. Atau bahkan Anda bisa merintis perusahaan Anda sendiri. Kalau Anda melihat orang-orang malas ada di kantor Anda, jangan sampai Anda menjadi seperti mereka, walaupun 90% kantor Anda dipenuhi orang seperti itu! Terserah orang mau bilang apa, yang penting Anda harus berkembang. Banyak orang bertanya ‘Bagaimana caranya supaya bisa terkenal (secara positif) di kantor?’. Jawaban saya, jadilah orang yang rajin. Orang yang pintar ada banyak. Tapi orang yang rajin? Hanya beberapa. Pintar tapi malas, artinya sama saja, tidak berkontribusi. Tidak berguna. Tiap kali Anda masuk kantor, ingatlah satu kalimat ‘Saya harus berkontribusi hari ini.’.

Jika Anda seorang fresh graduate atau karyawan kantor yang melihat hal yang sama seperti yang saya lihat, silahkan sebarkan tulisan ini. Mari kita bersama-sama ciptakan komunitas yang rajin, komunitas yang berkontribusi. Pintar itu hanya nomor kesekian. Pengalaman kerja itu juga hanya nomor kesekian. Nomor satunya adalah rajin. Jangan bangga akan senioritas. Banggalah akan seberapa besar yang bisa Anda berikan ke lingkungan kerja Anda. Haruskah saya menghormati senior? Ya. Apakah senior selalu benar? Tidak. ‘Senior’ hanya berarti Anda start lebih awal. Itu saja, tidak lebih. Sekali lagi, yang paling utama adalah kontribusi Anda.🙂

*This post has been translated into English and can be found here.

Written by medisonsimbolon

November 29, 2012 pada 10:37 am

14 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya sudah melihat orang yang sudah tua, berpengalaman puluhan tahun, pernah bekerja di luar negeri pula, tapi kontribusinya nol besar. Saya juga sudah melihat orang yang relatif muda namun berpengalaman kerja sekitar 3 tahun, kontribusinya sama saja, nol besar.

    Ganti yang tua jadi d*n*r
    n yang muda jadi r*z*

    Gendeng Kanginan

    November 29, 2012 at 11:04 am

    • No comment ah..😛

      medisonsimbolon

      November 29, 2012 at 11:25 am

  2. Well written, smartly said, and very thought-provoking.. nuninuninuni…

    mvll

    November 29, 2012 at 11:54 am

    • Wow, didn’t expect to see you here.. Thanks anyway..🙂

      medisonsimbolon

      November 29, 2012 at 12:30 pm

      • tulisan yg bagus…. wah sekarang buka usaha apa bro? bagi2 la tipsnya

        Albert Suwandhi

        November 29, 2012 at 7:39 pm

      • Bikin web dulu bang, kecil2an lah, sebagai perintis. Mungkin sekitar 1 minggu lagi ‘trial opening’. Ditunggu aja ya.. Hehe..
        Tips? Intinya sih tebal muka aja Bang.. Biar ga depresi kalau dikritik nanti. Haha..😀

        medisonsimbolon

        November 29, 2012 at 7:47 pm

      • Someone shared the link to me. So I translated it in english…🙂

        mvll

        November 30, 2012 at 6:18 am

      • Nice! At first I thought I should write this in English and put it in my other blog, but somehow I doubt the importance to do it. I can write it in English, if you will. I’m sure if you translate using a tool, it will not be easy to read..🙂

        medisonsimbolon

        November 30, 2012 at 8:55 am

      • medisonsimbolon

        November 30, 2012 at 10:37 am

  3. pengalaman abangda ini bisa kami jadikan pelajaran dan motivasi untuk kami..

    setuju dengan tulisan abangda “kalau memang Anda berkualitas, jangan takut dipecat. Banyak perusahaan yang mau memakai jasa Anda. Atau bahkan Anda bisa merintis perusahaan Anda sendiriPintar itu hanya nomor kesekian. Pengalaman kerja itu juga hanya nomor kesekian. Nomor satunya adalah rajin”.

    E’10

    rizky kurniawan

    November 29, 2012 at 9:48 pm

    • E’10? Wah, kalo gitu masih lama tamatnya. Mudah2an waktu kerja nanti, belum lupa sama tulisan ini ya… Hehe.. Semoga sukses.🙂

      medisonsimbolon

      November 29, 2012 at 9:53 pm

      • amiinn bg, mudah”an 2014 nti bisa selesai dan wisuda.. sehingga bisa langsung menerapkan saran yg abangda tulis.

        semoga sukses bg..😀

        rizky kurniawan

        Desember 4, 2012 at 12:47 pm

  4. tulisan yang menginspirasi, bagus appara. sudah coba saya terapkan dengan prinsip “catat apa yg anda kerjakan dan kerjakan apa yang anda catat”, sehingga setiap hari akan mencoba utk mengisi agenda kita dengan kontribusi.

    E’99

    David Simarmata

    Desember 3, 2012 at 12:57 pm

    • Makasih Bang.. Hehe.

      medisonsimbolon

      Desember 3, 2012 at 2:23 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: