mediBlog

Medison Simbolon

Bahasa Pemrograman, Dari Mana dan Mau ke Mana?

with 2 comments

Saya menangkap suatu ‘pertanda’ yang cukup menarik di dunia bahasa pemrograman komputer. Agar tulisan saya ini lebih valid, saya coba cocokkan dengan data sejarah dunia bahasa pemrograman di Wikipedia. Bagi orang2 yang sekarang berkelut di bidang pemrograman, saya mohon maaf kalau tulisan saya terlihat mengada-ada. Ini hanya perkiraan saya saja, setelah mengamati perkembangan di dunia Teknologi Informasi yang sedang saya pelajari ini. Mungkin saja saya salah, tetapi pendapat ya tetap saja pendapat. Oke, begini ceritanya.

Menurut sumber yang saya peroleh dari Wikipedia, sejarah konsep bahasa pemrograman pertama kali dimulai di masyarakat sebelum tahun 1940. Pada masa itu, bahasa pemrograman hanya disebut ‘kode’. Pada awalnya bahasa pemrograman dibuat untuk memecahkan permasalahan matematis (yang dalam hal ini adalah angka2 Bernoulli). Masuk ke tahun 1940-an, mulai muncul bahasa pemrograman yang berbasis bahasa Assembly. Hanya saja, pada saat itu tercatat bahwa pemrograman membutuhkan intelektualitas tinggi dan sangat rentan terhadap kesalahan. Antara tahun 1950-1960an, muncul bahasa pemrograman seperti Fortran, COBOL, LISP dan Basic. Pada masa ini, mulai dikenal suatu istilah yang bernama ‘prosedur (procedure)’. Antara 1967-1978an, beberapa bahasa pemrograman yang mulai masuk ke pasar adalah Simula, C, Pascal, SQL dan Prolog. Simula diklaim sebagai bahasa pemrograman pertama yang mendukung pemrograman berorientasi objek (Object Oriented Programming). Pada tahun 1980an, mulai dikenal bahasa pemrograman seperti C++ dan Perl, yang tentunya sudah jauh lebih mudah dimengerti daripada bahasa Assembly. Pada tahun 1990an ke atas (era Internet), muncul lagi bahasa2 pemrograman seperti Phyton, Java, PHP, C#.

Nah, yang ingin saya tekankan di sini adalah perkembangan bahasa pemrograman tersebut. Walaupun di Wikipedia tidak (belum) tercatat, tetapi saya juga mengetahui perkembangan pemrograman yang tadinya berbasis teks murni, seperti Pascal dan Fortran, menjadi berbasis Visual seperti Visual Studio, lalu disempurnakan dengan paradigma Object Oriented Programming yang sudah diadopsi oleh kebanyakan bahasa pemrograman. Hal ini juga dilengkapi dengan pemrograman untuk telepon seluler seperti J2ME, Brew dan Symbian.  Jika dulu bahasa pemrograman hanya digunakan oleh orang2 yang berlatar belakang teknik/ilmu komputer, sekarang ini bahasa pemrograman bisa dipakai dengan mudah oleh orang2 dengan latar belakang non komputer, seperti hukum, sastra dll. Sangat menarik juga jika kita melihat perkembangan pemrograman sistem tertanam (embedded system). Kalau dulu saya pernah memrogram pakai bahasa Assembly, sekarang anak2 SD juga sudah bisa memrogram robot dengan pemrogaman visual seperti yang dikembangkan oleh Lego.

Melihat perkembangan konsep2 yang ada di bahasa pemrograman tersebut, saya melihat bahwa nantinya bahasa2 pemrograman akan semakin mudah dioperasikan. Suatu saat, jika ingin membuat operasi apapun, pemrogram cukup klik geser saja, seperti pemrograman Visual pada umumnya. Semua logika2 yang diperlukan hanya diketik seperlunya, karena bahasa pemrograman tersebut sudah menyediakan segala wizard yang diperlukan untuk menyusun logika, tanpa ada cela apapun yang perlu diedit kode pemrogramannya. Bahasa pemrograman sudah tidak lagi didominasi ketik mengetik. Jika sudah semudah itu, berarti segala orang juga sudah bisa membuat suatu aplikasi, bahkan anak-anak, yang saat ini sudah bisa memrogram sebuah robot Lego. Jika sudah seperti itu, bagaimana nasib praktisi2 pemrograman? Akankah tercipta model bisnis baru yang bisa diolah? Atau tidak ada sama sekali?

Menurut saya, jika pada waktunya nanti hal tersebut dapat terwujud, lahan yang dapat digarap para praktisi pemrograman akan berkurang (kalau tidak mau dikatakan habis). Pengguna komputer semakin lama semakin dimanjakan dalam melakukan kostumisasi terhadap aplikasi2 yang dimilikinya, sehingga semua orang dapat mengerjakan semuanya sendiri. Namun, apakah hal tersebut benar adanya? Semua orang sebenarnya bisa menyapu rumahnya sendiri, tetapi selalu ada tempat untuk pembantu rumah tangga. Memasak air minum juga tidak susah, tetapi orang2 masih lebih suka membeli minuman dalam kemasan. Apakah kemudahan2 tersebut tetap tidak memberi pengaruh terhadap bisnis pemrograman? Apakah kemudahan2 tersebut tidak akan dimanfaatkan secara optimal oleh orang awam? Hmmm… Kita lihat saja..😀

Written by medisonsimbolon

November 27, 2009 pada 9:20 pm

Ditulis dalam Pikir2, Teknologi

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah ga tau lah, cita2 jd programer bkl kesampean ga ya… M0ga ja iya. Yg pntng ntu dlu bru nguruz krja…

    Na_raka

    Juni 2, 2010 at 5:53 pm

  2. menurut saya semua itu sudah ada bagiannya bang, tinggal yang punya kerjaan aja pintar2 berinovasi😀
    Apalagi di indonesia ini, semudah apapun suatu pekerjaan kalau bisa dibikin susahh..dirapat/lobi berhari2 hahaha

    rusty

    November 28, 2012 at 12:04 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: