mediBlog

Medison Simbolon

“Uang Sekolah” itu Mahal…

with one comment

tpsklh“Uang sekolah” itu mahal…

Itulah kalimat yang sering diucapkan oleh orangtua saya. Sederhana, tapi cukup menempel di benak saya. Mungkin Anda sudah tahu kalau uang sekolah mulai dari TK sampai kuliah itu memang mahal, tetapi yang dibicarakan di sini bukan “sekolah” semacam itu. Malah terkadang, “uang” yang dimaksud dalam hal ini bukan “uang” yang berupa kertas warna warni yang ada nilai nominalnya itu. Tapi yang jelas, “uang sekolah” yang di-“bayar” itu cukup memberikan hasil yang baik buat kita yang membayarnya. Berikut ilustrasinya:

Misalkan si A membeli makanan di warung tanpa mengecek tanggal kadaluarsanya. Begitu dia lihat makanan tersebut di rak, dia ambil, langsung dia bayar ke kasir sejumlah Rp. 4.500, lalu pulang. Sampai rumah, baru dia perhatikan, ternyata tanggal kadaluarsanya sudah lewat. Dia kembali ke toko tersebut, tetapi toko tersebut tidak mau menerima pengembalian barang yang sudah dibeli. Si A pun kecewa akan kesalahannya dan jadi tahu, bahwa untuk lain kali, dia harus lebih teliti membeli makanan.

Nah, dalam hal ini, yang jadi “uang sekolah” si A adalah uang sejumlah Rp.4.500 yang dia bayar tadi. Hasilnya? Dia tahu, dia harus teliti membeli makanan. Untuk mengetahui hal itu, apakah Rp.4.500 terasa mahal?

Coba lihat ilustrasi yang satu lagi:

Si B, yang sudah 10 tahun pacaran dengan si C, mendengar gosip2 tetangga yang menjelek2kan si C, cowoknya. Dia langsung percaya dan kemudian mendatangi si C. Begitu ketemu, B langsung menampar si C, memaki2nya, lalu menyatakan bahwa hubungan mereka sudah tidak ada lagi. Tetapi setelah mereka putus dan si B sudah kembali di rumah, barulah dia sadar bahwa gosip2 tetangga tersebut tidak benar. Dia menyesal dan ingin kembali lagi ke C untuk minta maaf. Namun apa daya, si C sudah terlanjur sakit hati dan tidak mau menerima si B lagi. Si B pun akhirnya sadar, bahwa tidak baik untuk cepat emosi dan menuduh tanpa bukti yang jelas.

Dalam hal ini, yang dipelajari oleh si B sudah jelas, yaitu tidak baik untuk cepat emosi dan menuduh tanpa bukti yang jelas. Nah, “uang sekolah”-nya:

  1. 10 tahun pacaran jadi sia2
  2. Si C tidak perduli lagi dengannya

Sekarang bagaimana? Mahalkah “uang sekolah” si B? šŸ˜€

Terlepas dari mahal tidak mahalnya “uang sekolah” kita, besar tidaknya kesalahan kita, semua itu ada gunanya buat kita. Jadi kalau memang kita perlu “uang sekolah” yang besar untuk membuat kita lebih baik, kenapa tidak? Kalau kita kehilangan satu hal yang besar, tetapi kita di-“wisuda” menjadi orang yang lebih bijak, kenapa tidak? Kembali lagi, “uang sekolah” itu mahal… šŸ˜‰

Iklan

Written by medisonsimbolon

Mei 3, 2009 pada 10:16 pm

Ditulis dalam Pikir2

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. so Wisdom….

    fitrisusanti

    Mei 6, 2009 at 10:30 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: