mediBlog

Medison Simbolon

Archive for the ‘Trik Komputer’ Category

Atur Waktu Sleep Komputer Anda

leave a comment »

Sebagai wujud kepedulian kepada pemanasan global, ada baiknya kita melakukan penghematan energi, mulai dari hal2 kecil. Saya beberapa kali melihat kejadian dimana sebuah komputer yang ditinggal pemiliknya menyala berjam2 tanpa ada melakukan proses apapun. Hal ini dari segi konsumsi energi tentu terhitung boros.

Nah, untuk sedikit menghemat energi, ada baiknya kita atur waktu sleep pada komputer kita.

Di Mac, caranya adalah melalui System Preferences. System Preferences dapat dicari dengan aplikasi Finder, di Applications - System Preferences.

Klik pada tombol Energy Saver (seperti pada gambar).

syspref1

Nanti akan muncul seperti berikut ini :

energysaver

Lakukan modifikasi sesuai kebutuhan Anda. Yang penting adalah, komputer bisa berubah ke kondisi sleep jika lama tidak disentuh pengguna. Dengan demikian, penggunaan energi akan lebih hemat.

Untuk Windows, tinggal masuk ke Control Panel. Pilih Power Option.

controlpanel

Selanjutnya, tinggal konfigurasi sesuai kebutuhan.

poweroption

Semoga bermanfaat…. :D

Written by medisonsimbolon

Februari 3, 2009 at 2:50 pm

Ditulis dalam Trik Komputer, Tutorial

Tagged with , ,

Cara Melakukan Print Screen pada Mac

with 70 comments

Print screen adalah proses “memotret” kondisi terkini yang sedang ditampilkan di layar komputer Anda. Jadi hasil print screen ini nantinya berupa file foto. Melakukan proses print screen biasa disebut juga dengan meng-capture. Hasilnya juga sering disebut screen capture (hanya perkara istilah saja.. :D)

Melakukan print screen pada Mac berbeda dengan yang biasa dilakukan pada Windows. Kalau di Windows, tinggal tekan tombol print screen pada keyboard, kemudian di-paste dimana saja Anda mau, contohnya di Paint.

Nah, untuk Mac, ada beberapa tipe print screen yang bisa dilakukan, yaitu :

1. Untuk melakukan print screen keseluruhan layar

  • Pastikan kondisi layar yang Anda lihat sekarang sudah sesuai dengan yang ingin Anda print screen.
  • Tekan tombol ⌘ + Shift + 3 lalu lepas semua tombol tadi.
  • Pegang mouse, dan klik di mana saja (Selama masih di layar ya.. Karena kalau sudah di luar layar, misalnya di kamar atau di dapur, Anda tidak bisa klik pakai mouse.. Hehe… :P ).
  • Anda sudah bisa melihat hasil print screen Anda di desktop.

2. Untuk melakukan print screen sebagian wilayah tertentu pada layar :

  • Tetap seperti di atas juga, pastikan kondisi layar yang Anda lihat sekarang sudah sesuai dengan yang ingin Anda print screen.
  • Tekan tombol ⌘ + Shift + 4 lalu lepas semua tombol tadi.
  • Kursor pada mouse Anda akan berubah menjadi +.
  • Buat kotak yang menandakan wilayah yang akan anda print screen. Caranya, klik tahan mulai dari sudut kiri atas kotak yang Anda buat, lepas di sudut kanan bawah kotak tersebut. Atau istilah lainnya, drag kursor sampai mencakupi seluruh wilayah yang ingin Anda print screen.
  • Keadaan di dalam kotak tadi sudah disimpan di desktop dalam bentuk foto.

3. Untuk melakukan print screen salah satu window atau jendela aplikasi saja, maka cara yang bisa dilakukan sbb :

  • Tetap seperti di atas juga, pastikan kondisi layar yang Anda lihat sekarang sudah sesuai dengan yang ingin Anda print screen.
  • Tekan bersamaan tombol ⌘ + Shift + 4 lalu lepas semua tombol tadi.
  • Kursor pada mouse berubah menjadi +
  • Klik tombol spasi pada keyboard.
  • Kursor pada mouse sekarang berubah menjadi gambar kamera.
  • Klik pada jendela aplikasi yang ingin Anda print screen.
  • Hasilnya bisa Anda lihat di desktop.

 

Sumber: Dokumentasi help dari Apple

Written by medisonsimbolon

Februari 3, 2009 at 12:12 pm

Ditulis dalam Trik Komputer, Tutorial

Tagged with ,

Repot dengan Nama File? Tag Saja….

leave a comment »

Mungkin Anda merasa kerepotan dengan memberi nama file yang tersimpan di hard disk Anda. Contoh kasus yang biasanya terjadi kira2 seperti ini :

Anda sedang browsing di internet untuk mencari artikel2 tentang komputer. Topik artikel yang sedang Anda kumpulkan tersebut ada yang membahas php, java, c++, networking, windows, linux dan mac… Nah, untuk menyimpan file2 tersebut, biasanya ada 2 cara :

1. Simpan di dalam 1 direktori yang sama

Untuk menyimpan banyak file di dalam sebuah direktori, tentunya mau tidak mau kita harus patuh pada satu peraturan mendasar : tidak ada nama file yang boleh sama persis. Hmm… Kalau begitu, mau tidak mau harus memberi nama file yang berbeda, yang biasanya disertai dengan embel2 supaya setiap file memiliki nama yang identik. Contoh : linux1.pdf, linux2.pdf, linux3.pdf, linux1.ppt dst…

Kelebihan dalam menggunakan cara ini adalah bahwa dengan menggunakan fasilitas search file, file apapun yang kita inginkan akan mudah ditemukan. Namun ada beberapa kekurangan, di antaranya :

a. File yang diunduh dari internet biasanya memiliki nama yang aneh2, misalnya egeinb2krn333.pdf. Nah, untuk mengganti nama dari setiap file yang kita unduh, tentu agak merepotkan..

b. Terkadang nama file yang kita buat jadi sangat2 panjang karena embel2 tersebut, contoh : linux_ubuntu_8_dummies_1.ppt.

2. Cara yang lain biasanya dengan membiarkan nama file tersebut tetap apa adanya, tetapi meletakannya secara hirarki di dalam direktori. Contoh :

Untuk direktori induk, namanya artikel komputer.

Di dalam direktori artikel komputer, ada 7 direktori, yaitu php, java, c++, networking, windows, linux dan mac.

Di dalam direktori linux, ada beberapa direktori lagi, yaitu direktori ubuntu, suse, fedora dll…

Dengan cara ini, kita tetap akan mudah menemukan file kita dengan menggunakan fasilitas search, tetapi yang dicari adalah direktori. Namun terkadang, kita juga berkeinginan untuk menyimpan file berdasarkan tanggal, atau berdasarkan tipe file. Tetapi bagaimana jika atribut yang kita inginkan di tiap file itu ada banyak? Misalnya untuk sebuah file, kita ingin menyimpan nama, tanggal, bidang pembahasan, situs sumber, pengarang dll, gimana cara membuat direktori2-nya?

Nah, dengan tag, hal demikian dapat diatasi. Urusan lebih mudah atau lebih sulitnya, itu tergantung opini masing2 aja… Kadang2 merubah kebiasaan justru malah lebih susah daripada yg lain2.. ;)

Tag adalah sebuah istilah non hirarki yang disertakan pada sebuah informasi, atau kira2 istilahnya adalah kata kunci.. :D Tag bukan nama file, dan juga bukan direktori. Beberapa file dapat memiliki tag yang sama.

Setahu saya, sistem operasi Windows belum menyediakan aplikasi untuk dapat membuat atau membaca tag dari sebuah file. Tetapi di Mac OS X, hal tersebut sudah diakomodir oleh Finder.

Cara membuat tag dari sebuah file cukup mudah.

1. Klik kanan pada file yang akan dibuat tag-nya, pilih Get Info.

2. Tulis tag pada kolom Spotlight Comments. Setiap tag dipisah oleh tanda koma.

Contoh : Tag yang ingin kita simpan adalah topik umum, topik khusus, waktu unduh dan penulis. Jadi kira2 tag nya adalah komputer, linux, agustus, medison. Tanda titik tidak perlu ditulis di akhir tag.

Untuk mencari file tersebut berdasarkan tag, maka cukup buka aplikasi Finder, dan tulis di bagian kanan atas tag yang ingin kita cari, misalnya linux. Dengan melakukan hal tersebut, semua file yang memiliki tag linux akan tampil.

Dengan sistem tagging ini, semua file dapat kita masukkan di dalam satu direktori tanpa repot mengubah2 nama atau membuat hirarki direktori lagi. Gampang tidak? Ya…. Tergantung… ;)

Ok? Mudah2an bisa membantu… :D

Written by medisonsimbolon

September 15, 2008 at 12:17 pm

Ditulis dalam Trik Komputer, Tutorial

Tagged with ,

Menulis pada Partisi NTFS dengan Mac OS X

leave a comment »

Pengguna Mac OS X yang memakai Boot Camp untuk dual boot Mac OS X dan Windows XP (Vista) kemungkinan mempunyai masalah dengan format partisi data, dimana Mac OS X dapat melakukan proses baca tulis pada partisi dengan format FAT-32, tetapi  hanya bisa melakukan proses baca pada NTFS. Hal ini dapat dianggap mengganggu karena FAT-32 mempunyai keterbatasan dimana salah satu kelemahannya adalah bahwa ukuran maksimum dari sebuah file di partisi FAT-32 adalah kira2 sebesar 4GB. Pengguna yang ingin menyimpan file iso yang biasanya berukuran lebih dari 4GB biasanya menyimpan di partisi NTFS-nya.

Tetapi masalah tersebut sudah dapat teratasi.. :D

Amit Singh, karyawan Google, merilis MacFuse yang memungkinkan pengguna memakai FUSE (File-system in USErspace) apapun. Salah satu FUSE yang dipakai dalam hal ini adalah NTFS-3G. Dengan NTFS-3G, kita bisa melakukan proses baca tulis pada partisi NTFS. Tentunya akan sangat2 membantu pengguna yang dual boot ataupun pengguna Mac yang memiliki hard disk eksternal dengan partisi NTFS.

Yang perlu dilakukan hanya menginstall MacFuse terlebih dahulu. Setelah itu install NTFS-3G. Kalau sudah, Anda sudah dapat menikmati kebebasan menulis pada partisi NTFS dengan Mac OS X. Hal ini sudah saya coba, dan sudah berjalan sesuai harapan.

Selamat mencoba.. Tapi ingat, backup dulu semua data Anda sebelum mencoba… :D

Written by medisonsimbolon

September 15, 2008 at 9:17 am

Ditulis dalam Trik Komputer, Tutorial

Tagged with , ,

Masalah File .DS_Store Pada Mac OS X

leave a comment »

Bagi para pengguna Mac, mungkin pernah meliat file .DS_Store pada direktori media penyimpanannya. File .DS_Store bersifat hidden, yang artinya hanya bisa ditampilkan di Finder dengan cara yang saya jabarkan di posting sebelumnya. Saya selalu melihat file ini di flash disk saya. Karena penasaran, saya coba googling, dan… Inilah kira2 yang saya dapatkan sejauh ini.

Baiklah. Pertama-tama, apa itu file .DS_Store?

.DS_Store adalah sebuah file yang diciptakan oleh Sistem Operasi Mac OS X untuk menyimpan pengaturan terhadap sebuah direktori, seperti posisi2 icon, komentar atau gambar latar dari direktori tersebut. Secara default, Finder pada Mac OS X akan menciptakan file tersebut pada direktori2 apapun yang diaksesnya : Direktori lokal, direktori pada flash disk, bahkan pada direktori2 jarak jauh, seperti jika mengadakan koneksi share direktori via SMB atau AFP.

Hal ini membuat banyak orang mengajukan protes terhadap pihak Apple. Mereka yang mengajukan protes umumnya merasa keberatan karena dengan diciptakannya file .DS_Store ini, mereka selalu meninggalkan jejak jika mengunjungi komputer lain di jaringan. File ini juga menimbulkan masalah pada perangkat2 seperti bingkai foto digital atau pemutar MP3 non Apple.

Karena banyaknya protes ini, pihak Apple kemudian merilis artikel yang menjelaskan mengenai langkah2 yang dapat dilakukan agar Mac tidak menciptakan file tersebut. Perlu dicatat bahwa, dengan menjalankan langkah2 tersebut, file tersebut tidak akan diciptakan lagi pada direktori jarak jauh, tapi tetap ada pada direktori lokal. (Ya iya dong. Kalau di direktori lokal juga tidak ada, berarti pengaturan direktori tidak akan pernah disimpan dimana2.. Repot dong kalau tiap kali masuk harus atur2 lagi… ;) ) Langkah tersebut juga tidak menghentikan proses copy file .DS_Store yang sudah terlebih dahulu ada ke direktori jarak jauh. Satu hal lagi,  langkah tersebut mungkin akan memberi pengaruh aneh terhadap Finder. Contohnya, dengan tidak dibuatnya file ini pada direktori jarak jauh, maka jika kita hendak upload data ke server jarak jauh, admin server dan juga client2-nya yang lain mungkin akan kesulitan dalam mengidentifikasi direktori tersebut. Maka, jika server ingin supaya direktori tersebut memiliki komentar, maka admin server harus menulis sendiri komentarnya, supaya bisa juga dilihat oleh client yang lain. Hmm… Jd repot ya? :)

Oke2, udah kebanyakan ngomongnya. Hehe… Sekarang saya akan tuliskan langkah yang dirilis oleh Apple tersebut.

1. Buka terminal

2. Ketik:

defaults write com.apple.desktopservices DSDontWriteNetworkStores true

3. Tekan Return.

4. Restart komputer.

Sederhana sih, tapi mungkin berguna bagi beberapa orang. Kalau saya (jujur) belum terlalu bermasalah dengan yang hal tadi. Jadi langkah2 di atas belum saya gunakan. :D
——————————————————————————————————————————————–
Artikel keluaran Apple tersebut dapat dilihat disini.

Written by medisonsimbolon

Juli 12, 2008 at 7:13 pm

Ditulis dalam Trik Komputer, Tutorial

Tagged with , , , ,

Melihat Hidden Files di Mac

with one comment

Bagi orang-orang yang terbiasa memakai Windows, lalu berganti ke Mac (seperti saya :D ), mungkin ada satu hal yang menjadi pertanyaan, yaitu :

“Bagaimana melihat hidden files di Mac saya pada aplikasi Finder?”

Nah, berhubung saya sudah punya jawabannya, maka saya mencoba untuk membagikannya ke yang lain.

Ada 3 cara untuk melihat hidden files di Mac :

1. Melalui Terminal

Caranya adalah dengan mengetikkan perintah di bawah :

defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles YES

Kemudian…Jangan lupa tekan tombol Return. ;) Perintah YES juga bisa diganti dengan TRUE. Untuk menonaktifkannya, tinggal ganti perintah YES atau TRUE menjadi NO atau FALSE. Setiap kali selesai memasukkan perintah tersebut, terkadang hasilnya bisa langsung terlihat, terkadang tidak. Jika tidak terlihat hasilnya, maka masukkan perintah berikutnya, yaitu :

killall Finder

Perintah tersebut digunakan untuk me-restart aplikasi Finder pada Mac. Begitu perintah tersebut dijalankan, maka hasil yang sebelumnya sudah bisa terlihat.

2. Dengan bantuan Script Editor

Script Editor adalah aplikasi standar dari Sistem Operasi Mac yang mengijinkan pengguna untuk menciptakan maupun mengedit script menggunakan AppleScript, semacam bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Apple. Script Editor dapat dijalankan dari /Applications/AppleScript/Script Editor.

Setelah menjalankan aplikasi Script Editor, copy-lah script di bawah ini, dan paste pada jendela Script Editor. Mmm…Garis2nya tidak ikut ya? Itu hanya sebagai batasan saja. ;)

—————————————————————————————————————-

set dotVisible to do shell script “defaults read com.apple.Finder AppleShowAllFiles”
if dotVisible = “0” then
do shell script “defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles 1″
else
do shell script “defaults write com.apple.Finder AppleShowAllFiles 0″
end if
tell application “Finder” to quit
delay 1
tell application “Finder” to activate

—————————————————————————————————————-

Script di atas memberlakukan operasi toogle terhadap hidden files Anda. Dengan kata lain, jika saat ini hidden files bisa dilihat, kemudian script dijalankan, maka hidden files kembali tidak bisa terlihat. Begitu sebaliknya. Script tadi juga langsung melakukan proses restart pada Finder, jadi Anda bisa langsung melihat hasilnya.

Save as-lah script tersebut sebagai aplikasi (application). Pastikan tidak ada kotak yang dicentang. Simpan pada tempat yang mudah Anda temui, dengan nama, misalkan : showhid.app.

Nah, setelah disimpan, sebagai aplikasi, maka script tadi sekarang sudah menjadi applet. Double-click lah showhid.app tersebut setiap kali Anda ingin melihat, atau tidak ingin melihat hidden files Anda.  Sip? :)

3. Dengan bantuan software

Ada berbagai software di pasaran yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi masalah ini, seperti Show Hidden Files atau TinkerTool. Jangan khawatir, dua2nya free;)

Mudah2an bisa membantu…. :)

Written by medisonsimbolon

Juli 12, 2008 at 4:31 pm

Perintah Dasar UNIX

with 2 comments

Salam….

Berikut ini perintah2 yang bisa dijalankan di UNIX. Perintah2 ini hanya sebagian kecil dari perintah2 yang ada, tapi yang cukup sering dipakai. Mudah2an berguna bagi yang membutuhkan. Kalau ada yang kurang atau gimana2, ditunggu kritik dan sarannya…

Baiklah, mari kita mulai… 8)

——————————————————————————————————————————————————–

Mencari tahu posisi direktori yang sedang aktif saat ini

pwd                  : singkatan dari print working directory

——————————————————————————————————————————————————–

Melihat daftar isi direktori yang sedang aktif

ls                       : melihat semua daftar isi direktori kecuali hidden files

ls -a                  : melihat semua daftar isi direktori, termasuk hidden files (a singkatan dari attribute)

ls -l                   : menampilkan informasi tambahan dari setiap file atau direktori, kecuali hidden files (l singkatan dari long)

ls -al atau ls -la : menampilkan informasi tambahan dari setiap file atau direktori, termasuk hidden files

Informasi tambahan yang akan ditampilkan adalah berupa tanggal pembuatan, account pembuat file, dan juga hak akses file/directory. Hak akses file/directory adalah hak2 yang dimiliki setiap user dalam mengakses file atau directory tersebut. Contoh :

Informasi hak akses file/directory yang diberikan adalah drwxrw-r-x

Nah, sebenarnya hak akses file/directory tersebut terdiri dari 4 bagian, yang kalau dipilah-pilah hasilnya sebagai berikut:

‘d’ (karakter pertama), artinya ini adalah sebuah direktori. Jika ini adalah sebuah file, maka karakter pertama ditulis ‘-‘.

‘rwx’ (karakter kedua, ketiga dan keempat), adalah merupakan hak yang dimiliki user/owner, dimana hal ini berarti user/owner dapat melakukan proses read(r) atau baca, write (w) atau tulis, dan x(execute) atau menjalankan pada file/directory tersebut.

‘rw-‘ (karakter kelima, keenam dan ketujuh), adalah merupakan hak yang dimiliki oleh group, yang mana berarti group bisa melakukan proses baca dan tulis, tetapi tidak bisa menjalankan file tersebut.

‘r-x’ (karakter kedelapan, kesembilan dan kesepuluh), adalah merupakan hak pengguna lain yang tidak termasuk owner ataupun group. Dalam hal ini, hak yang dimilikinya adalah……Sudah tau kan?Hehe…Loh, kok itu? Coba baca sekali lagi. Sudah tau? Nah…Gitu dong.. ;)

——————————————————————————————————————————————————–

Membuat file baru

pico namafile.tipefile

Contoh : pico test.html      ——> membuat file baru dengan nama test.html

Setelah command di atas dijalankan, maka akan ada tampilan buffer. Untuk menyimpan file yang baru dibuat tanpa keluar dari perintah pico, tekan tombol control + O. Hal ini dilakukan untuk menciptakan beberapa file sekaligus. Tekan return untuk melanjutkan.

Untuk menyimpan file dan langsung keluar dari perintah pico, tekan tombol control + X. Ketika ditanya apakah ingin menyimpan atau tidak, ketik Y.

Masukkan perintah ls untuk melihat hasilnya.

——————————————————————————————————————————————————–

Membuat direktori baru

mkdir namadirektori

Contoh : mkdir medison         ————-> membuat direktori baru dengan nama medison

——————————————————————————————————————————————————–

Membuka file

Untuk Mac :

open namafile.tipefile : membuka file dengan aplikasi default

Contoh : open 1a.jpg   ————> membuka file 1a.jpg dengan menggunakan aplikasi default untuk membuka file .jpg

open -a aplikasi namafile.tipefile : membuka file dengan aplikasi yang diminta

Contoh : open -a preview 1a.jpg  ——-> membuka file 1a.jpg  dengan menggunakan aplikasi ‘preview’.

Untuk Linux :

./namafile ———-> membuka file

Contoh : ./latihan.txt  ————> membuka file latihan.txt

——————————————————————————————————————————————————–

Masuk sebagai root

Root adalah hak akses yang mampu melakukan apa saja terhadap komputer Unix. Root adalah istilah lain untuk Administrator.

Cara untuk masuk sebagai root adalah dengan mengetik su

Setelah mengetik su di terminal, ketikkanlah password root-nya, dan tampilan prompt akan menjadi sbb :

root@namakomputeranda:/#

Tulisan di sebelah kanan titik dua akan bervariasi, tergantung lokasi direktori Anda sedang berada saat ini.

Jika Anda belum memiliki password su, maka ketikkanlah terlebih dahulu

sudo passwd root

dan masukkan password yang Anda inginkan.

——————————————————————————————————————————————————–

Mengatur hak akses user pada file atau direktori

Untuk dapat mengatur hak akses user, perlu terlebih dahulu dilihat penggolongan berikut :

1. Pada level owner

400 : dapat dibaca oleh owner

200 : dapat ditulis oleh owner

100 : dapat dijalankan oleh owner

2. Pada level group

040 : dapat dibaca oleh group

020 : dapat ditulis oleh group

010 : dapat dijalankan oleh group

3. Pada level pengguna lainnya

004 : dapat dibaca oleh pengguna lainnya

002 : dapat ditulis oleh pengguna lainnya

001 : dapat dijalankan oleh pengguna lainnya

Keseluruhan angka di atas adalah sejenis poin yang dapat dijumlah untuk menghasilkan hak akses file/directory yang kita inginkan. Contoh, jika kita ingin owner dapat melakukan segalanya, group hanya boleh baca tulis, dan pengguna lain hanya boleh baca, maka kita bisa langsung jumlahkan poin2nya.

400+200+100+040+020+004 = 764

Nah, 764 adalah poin yang kita butuhkan untuk menghasilkan hak akses file/directory seperti yang diinginkan di atas.

Setelah poin tersebut diperoleh, langkah selanjutnya tinggal mengetik :

chmod 764 namafile.tipefile

Poin2 lain yang sering digunakan adalah :

777 – semua level dapat melakukan semua proses

755 – owner boleh melakukan semua proses, yang lain hanya boleh baca dan jalankan

711 – owner boleh melakukan semua proses, yang lain hanya boleh menjalankan

644 – owner boleh membaca dan menulis, yang lain hanya boleh membaca

——————————————————————————————————————————————————–

Mengganti nama file/direktori

mv namafilesebelumnya.tipefile namafilebaru.tipefile : untuk mengganti nama file

cth : mv lama.jpg baru.jpg   ————> mengganti nama lama.jpg menjadi baru.jpg

mv namadirektorisebelumnya namadirektoribaru       : untuk mengganti nama direktori

cth : mv bulan matahari       ————> mengganti nama direktori bulan menjadi matahari

——————————————————————————————————————————————————–

Memindahkan file

mv namafile.tipefile lokasidirektoribaru

Contoh : mv bangun.pdf /users/mac/desktop     —–> memindahkan file bangun.pdf ke direktori /users/mac/desktop

——————————————————————————————————————————————————–

Copy file

cp namafile.tipefile lokasidirektoribaru

Contoh : gambar.jpg /users/mac/desktop     —–> copy file gambar.jpg ke direktori /users/mac/desktop

cp namafilelama.tipefile namafilebaru.tipefile

Contoh : gambar.jpg gambar2.jpg  —–> copy file gambar.jpg ke direktori yang sama, dengan nama gambar2.jpg

Hanya saja, dengan menggunakan perintah cp, jika ada file dengan nama yang sama di direktori yang dituju, maka file tersebut akan langsung tertimpa. Untuk mengatasi hal ini, maka langkah yang paling aman adalah meletakkan -i di depan cp.

Contoh : cp -i gambar.jpg /users/mac/desktop   —–> copy file gambar.jpg ke direktori /users/mac/desktop, hanya saja jika ada nama file yang sama di direktori tujuan tersebut, maka konfirmasi pengguna untuk melakukan proses copy akan diajukan.  Jika pengguna tetap ingin melakukan proses copy dan menimpa file yang sudah terlebih dahulu ada pada direktori tersebut, maka pengguna dapat menjawab ‘yes’.

——————————————————————————————————————————————————–

Hapus file atau direktori

rm namafile.tipefile untuk menghapus file

Contoh : rm bagus.pdf     ————–> menghapus file bagus.pdf

rm -f namadirektori untuk menghapus paksa sebuah file, jika pengguna tidak memiliki hak akses tulis

Contoh : rm -f bagus.pdf  —————-> menghapus paksa file bagus.pdf

rm -r namadirektori untuk menghapus direktori

Contoh : rm -r minum   ——> menghapus direktori minum

rm * : menghapus  semua file yang ada di direktori aktif (WARNING : HATI2…!!!)

——————————————————————————————————————————————————–

Written by medisonsimbolon

Juli 9, 2008 at 8:04 am

Ditulis dalam Trik Komputer, Tutorial

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.