Archive for Februari 2009
PHD Comics, Komik untuk Mahasiswa Pasca Sarjana
Sewaktu mondar-mandir di blognya Pak Yoanes Bandung, saya mendapati komentar di artikel beliau yang memperkenalkan PHD Comics. PHD (Piled Higher and Deeper) Comics adalah sebuah situs yang menawarkan topik2 yang umum dibahas oleh mahasiswa pasca sarjana. Tetapi, topik2 tersebut dibahas dengan cara yang unik, yaitu dalam bentuk komik. Setelah membaca beberapa pembahasannya, ternyata isinya menurut saya cukup baik. Langsung saja saya membuat link situs tersebut sebagai blogroll di mediBlog..
Salah satu artikel yang menarik buat saya adalah mengenai etika mahasiswa pasca sarjana. Ternyata, mahasiswa pasca sarjana itu dinilai tidak sopan jika mempertanyakan tentang penelitian/disertasi yang sedang dikerjakan kepada seorang mahasiswa doktor (S3). Menanyakan tentang lama pengerjaan tesis mahasiswa S3 tersebut pun dinilai tidak sopan. Hmmm.. Hal2 seperti itu, yang tadinya saya anggap hal yang kecil, ternyata sensitif juga ya? Hehe.. Saya harus banyak2 baca lagi nih..
Untuk yang ingin membaca juga, silahkan kunjungi situsnya di phdcomics.com. Mudah2an bermanfaat…
Sebutkan 5 Kekurangan Anda!
Sekarang mas/mbak, coba sebutkan 5 kekurangan Anda..
Mungkin pertanyaan tersebut pernah ditanyakan kepada Anda ketika Anda mengikuti wawancara untuk melamar sebuah pekerjaan. Kebetulan saya kemarin ditanyain pertanyaan serupa sewaktu melamar sebuah pekerjaan part time. Jawaban saya? Ada deh… Hehe..
Yang ingin saya sampaikan kali ini, bagaimana jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada Anda? Setelah saya pikir2 (sepulang dari wawancara tersebut), gimana ya kalau jawaban saya begini :
- Jelek
- Hitam
- Pendek
- Perut buncit
- Jerawatan
Kira2.. Apa pengaruhnya ya? Akankah berpengaruh ke diterima atau tidaknya bekerja di tempat itu? Hehe.. Atau jangan2, mereka bakal bilang :
Ah, mas/mbak keren kok… Gitu kok dibilang jelek..
Haha..
Kalau sudah begitu, kemanakah pembicaraan berlanjut…..? (Silahkan jawab dengan angan2 sendiri..
)
CAPTCHA yang Memerlukan Penyesuaian
Bagi Anda yang sering mondar-mandir di dunia maya, mungkin sudah sering menjumpai citra CAPTCHA (Completely Automated Public Touring Test to Tell Computers and Humans Apart). CAPTCHA adalah gambar yang diganggu sedemikian rupa sehingga sedikit menyulitkan manusia dalam membacanya. Biasanya CAPTCHA digunakan untuk memastikan bahwa proses2 (seperti pendaftaran, pengajuan pembelian barang, pengiriman email dll di internet) yang sedang berjalan memang dijalankan secara sengaja oleh manusia. CAPTCHA sejauh ini masih menjadi solusi untuk menangkal ‘pergerakan komputer’ secara otomatis di dalam internet. Terkadang disediakan pula autentikasi audio sebagai alternatif CAPTCHA, tetapi belum terlalu populer (sepanjang pengetahuan saya..). Contoh2 CAPTCHA :


Namun, seiring dengan semakin tingginya teknologi, sepertinya CAPTCHA yang diciptakan juga semakin rumit, bahkan semakin susah untuk dibaca oleh manusia. Berikut contohnya :



Apa2an tuh?? Hehe…
Tingginya sisi keamanan biasanya memang mengorbankan sisi kenyamanan. Tetapi, kalau sampai seperti di atas, kadang2 buat sakit mata juga..
Memang, kita dibolehkan mengganti gambar tersebut dengan yang lain jika kita kesulitan membacanya. Namun kalau dipikir2, daripada begini terus (atau malah lebih parah), mungkin sudah perlu diberi sedikit penyesuaian terhadap CAPTCHA ini. Penyesuaian yang saya maksud adalah supaya CAPTCHA tidak lagi menggunakan karakter, tetapi objek. Contoh, disediakan gambar dan pertanyaan seperti di bawah :

Gambar apakah ini?
A. Tusuk gigi
B. Bunga Matahari
C. Korek api
Dengan metode CAPTCHA seperti di atas, saya yakin (setidaknya untuk 10 tahun ini
) belum didapatkan algoritma yang mampu mendeteksi jawaban di atas secara otomatis. Tetapi, kita sebagai manusia, tentunya dengan sangat mudah menjawab “A. Tusuk gigi” !
Bagaimana? Setuju? Hehe….
Anak2 Sekarang Lebih Cepat “Dewasa”?
Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang sering naik angkot dan makan di pinggiran, saya mendapati sebuah fenomena.
Fenomenanya seputar pengamen. Ada apa dengan pengamen? Banyak pengamen yang datang masih berusia sangat muda, bahkan taksiran saya bisa berumur 5 atau 6 tahun. Yang saya bicarakan bukan masalah “kenapa anak2 jadi pengamen”, tetapi kenapa mereka menyanyikan lagu2 “dewasa”, alias bertema cinta2an? Saya masih ingat dulu waktu saya SD disuruh nyanyi di depan kelas, saya paling tidak mau menyanyikan lagu bertema cinta2an. Malu!
Anak2 ini menyanyikan lagu2 seperti lagunya D’Massiv, Peterpan, Ungu, dan lain-lain. Wah… Hebat juga perkembangan di zaman globalisasi ini ya? Anak2 tadi itu, kalau disuruh nyanyi Bintang Kecil, Pelangi Pelangi, Balonku, Desaku yang Kucinta dll, bisa ngga ya?
Tidak hanya pengamen. Kalau kita lihat reality show di televisi, yang mengaudisi kemampuan bernyanyi anak2, kita dapat melihat hal yang serupa. Hampir tidak ada saya lihat anak2 tersebut menyanyikan lagu2 KHAS anak2. Bahkan saya ingat pada suatu acara televisi (saya lupa nama acaranya apa), salah satu tim juri, yaitu Pak Helmi Yahya, menegur salah seorang kontestan (yang masih anak sekolah) karena menyanyikan lagu Malam Pertama-nya Rossa. Pak Helmi menyatakan bahwa si kontestan tersebut belum pantas menyanyikan lagu tersebut. Menurut saya, komentar tersebut sangat tepat. Lirik lagu tersebut sangat tidak pas kalau diucapkan oleh anak2.
Kalau dipikir2, kenapa bisa berubah begitu ya? Atau, saya aja yang memang pemalu, sampai2 waktu kecil tidak berani nyanyi lagu bertema cinta2an?
Mmmm… Entahlah..
“If I Were A Boy” dan “One of Us”
Sewaktu pertama kali mendengar lagunya Beyonce yang berjudul “If I Were A Boy”, saya merasa sudah pernah mendengar lagu yang mirip seperti itu sebelumnya, tapi lagu apa ya…? Sempat penasaran juga tuh..
Sewaktu sedang jalan2 ke mall bareng teman, saya dengar lagunya Joan Osborne, yang berjudul “One of Us”. Nah, itu dia! Ternyata lagunya Beyonce tersebut mirip dengan lagunya Joan Osborne tadi. Kalau tidak percaya, coba aja cari di Youtube. Dengerin mulai dari awal sampai akhir. Bandingkan keduanya..
Gimana gimana? Hehe…
Dragons’ Den, Reality Show Investasi Bisnis
Bagi Anda yang berlangganan TV kabel, mungkin Anda pernah menonton sebuah acara yang berjudul Dragons’ Den yang disiarkan oleh BBC Knowledge. Dragons’ Den adalah sebuah serial reality show dimana ada 5 orang investor yang ‘mengaudisi’ para peserta yang membutuhkan dana untuk memulai ataupun mengembangkan usaha bisnis mereka. 5 orang investor itu dipanggil dengan sebutan the Dragons. The Dragons (pada waktu saya tonton kemarin) terdiri dari Arlene Dickinson, Robert Herjavec, Jim Treliving, Kevin O’Leary dan W. Brett Wilson. Para peserta audisi bergantian menghadap the Dragons dengan membawa ide2 mereka masing2. Ide2 tersebut beragam, baik dari segi kreatifitas maupun kualitas. The Dragons akan mendengarkan paparan masing2 peserta (ide yang dimiliki dan dana yang dibutuhkannya) dan kemudian mempertimbangkan apakah akan memberi suntikan investasi atau tidak. Kalau ada personil dari the Dragons yang tertarik dengan ide tersebut, maka akan diadakan sesi tawar menawar. Yang menanamkan investasi bisa hanya satu, dua atau malah keseluruhan personil the Dragons. Investasi yang diberikanpun (menurut saya) terbilang besar, tergantung kesepakatan dengan peserta. Sebaliknya, jika idenya tidak menarik perhatian the Dragons, maka peserta tersebut akan pulang dengan tangan hampa. Seperti biasa, ada yang menerima keputusan tersebut, ada juga yang tidak. Yah, namanya juga manusia..
Setelah menonton acara tersebut, saya berpikir : “Kenapa konsep acara tersebut tidak diadopsi saja oleh televisi di Indonesia?”
Saya kurang tahu persis, tapi kalau naluri awam saya berkata, kalau acara ini diadopsi, kemungkinan rating-nya akan cukup tinggi. Sisi positif yang paling penting (yang menurut saya sangat mungkin terjadi) adalah terbukanya lapangan pekerjaan. Begitu investor menanamkan modal, dan perusahaan berkembang, tentunya mereka akan membutuhkan pekerja. Sisi positif lain lagi (sekali lagi, menurut naluri awam saya.. hehe..
), tentunya perusahaan lokal akan semakin berkembang. Saya percaya ada banyak masyarakat Indonesia yang mempunyai ide2 brilian ataupun memiliki keterampilan dalam mengerjakan sesuatu hal yang mempunyai nilai jual yang tinggi, tetapi kurang berkembang karena kekurangan dana. Saya juga percaya ada banyak investor2 dalam negeri yang mampu dan mau menginvestasikan dananya kepada masyarakat, tetapi tidak bisa karena tidak pernah mendengar ataupun bertemu dengan masyarakat yang memiliki ide atau keterampilan tadi. Nah, untuk itulah (menurut saya) acara ini perlu dibuat sebagai jembatan antara kedua pihak tersebut.
Agak bosan juga melihat reality show lokal yang beberapa tahun belakangan hanya didominasi reality show bidang tarik suara. Potensi yang ada di dalam negeri kan bukan hanya di bidang itu.
Yah, begitulah kira2.. Ini hanya pemikiran saya yang (sejujurnya) awam dalam bidang ekonomi. Saya hanya memakai logika2 umum saja. Entahlah kalau orang lain berpikiran yang jauh berbeda. Tetapi begitupun, saya berharap ada orang2 di bidang pertelevisian yang membaca tulisan saya ini. Siapa tahu ada gunanya…
Link Situs-Situs Pengenalan Wajah (Face Recognition)
Berikut merupakan link situs2 yang menurut saya dapat dijadikan dasar acuan kalau ingin mendalami biometrik, khususnya pengenalan wajah. Link2 di bawah ini akan saya perbaharui lagi jika saya mendapatkan sumber2 lain yang tidak kalah bermanfaat.
Situs yang membahas biometrik :
http://www.biometrics.org —> semacam konsorsium yang membahas banyak hal tentang biometrik.
http://biometrics.gov —> artikel2 pengenalan biometrik bisa didapat di situs ini.
Situs yang membahas pengenalan wajah (face recognition) :
http://face-rec.org —-> artikel2 penting yang membahas tentang pengenalan wajah cukup banyak di situs ini.
http://www.facerec.com —> lebih banyak sisi komersil ketimbang pembelajarannya. Tetapi produk2 yang diiklankannya mungkin bisa jadi sumber inspirasi.
Blender : Sebuah Alternatif

Setelah beberapa lama (ga terlalu lama juga sih) bergulat di perangkat lunak 3Ds Max, kayaknya sekarang saya mau coba yang baru. Dan kalau bisa, gratis..
Cari sana, cari sini, ternyata ada sebuah alternatif, namanya Blender.. Blender adalah perangkat lunak open source yang bisa di-download cuma2 di sini, sementara galeri hasil render-nya Blender dapat dilihat di sini. Hasil render dengan menggunakan Blender ini menurut saya masih belum sehebat 3Ds Max, apalagi kalau 3Ds Max-nya pakai mesin render V-Ray. Saya kurang tahu kalau orang lain berpandangan berbeda..
Hasil2 render V-Ray pada 3Ds Max dapat dilihat di sini dan di sini (kebanyakan kata2 ‘di sini’-nya ya? Hehe…
).
Walaupun hasilnya masih agak kalah, tetapi menurut saya konsep gratisan yang diusung oleh Blender patut jadi nilai yang penting, berhubung harga 3Ds Max 9 yang asli itu senilai $3.495. Muahaaaalll…! Apalagi kalau mau pakai plugin mesin render V-Ray. Harus beli lagi, dan harganya pun muaaaahaaalll juga… (kecuali yang bajakan ya..
) Hehe… Saya memang bukan orang arsitektur, tetapi menurut saya kalau mau membuat foto 3D dari rancangan yang dibuat, ga perlu harus betul2 realistis kan? Yang penting kan maksudnya tersampaikan. Kalau kita gambar atap, orang lain yang melihat gambar kita juga tahu, itu atap (bukan pohon atau kursi lipat..
). Lagipula kalau mau melakukan render yang sangat realistis, prosesnya akan memakan waktu (jauh) lebih lama. Tetapi kalau bicara masalah gengsi, saya ga komentar apa2 deh…
Tetapi, saya masih kurang terbiasa dengan interface dari Blender. Apa karena saya terbiasa dengan 3Ds Max? Apakah orang2 yang sudah terbiasa dengan Maya akan mengalami kesulitan serupa pada awalnya? Karena katanya, orang2 yang sudah terbiasa dengan Maya, tidak terlalu sulit untuk bermigrasi ke 3Ds Max. Siapa tahu mereka juga tidak sulit bermigrasi ke Blender..
Yah… Gimanapun ceritanya, saya sekarang cuma bisa nonton dulu… Ada beberapa hal lain yang harus diprioritaskan.. Hehe… Kepingin juga terjun lagi ke dunia CG kapan2. CG memang memabukkan! (dalam arti positif…)
Arshavin Resmi Masuk Arsenal!!
Setelah melalui proses transfer yang panjang, akhirnya masuk juga tuh Arshavin ke Arsenal. Kalau baca dari kompas.com sih, katanya Arshavin mau pakai nomor 23. Ah, ga penting lah mau nomor berapa. Yang penting, mudah2an trio Ars (Arshavin, Arsene dan Arsenal) merupakan kombinasi yang baik. Gabungan tim muda dengan Arshavin yang sudah ‘lebih dewasa’
mudah2an bisa membawa Arsenal kembali ke 4 besar. Jangan sampai Arsenal ga bisa masuk ke liga Champions musim depan.
Maju terus, The Young Guns!!
Pengenalan Wajah (Face Recognition) : Topik Thesis yang Menarik?
Dulu waktu kuliah S1, saya buat Tugas Akhir mengenai pengenalan wajah atau face recognition. Gambaran kasarnya, saya membuat perangkat lunak yang dapat membandingkan sebuah foto tertentu dengan sejumlah foto yang sudah tersimpan di database (sederhana
). Kalau wajah di dalam foto yang dibandingkan tersebut ternyata mirip dengan salah satu foto yang ada di database, sebut saja namanya Bunga
, maka perangkat lunak akan memberi notifikasi bahwa foto tersebut mirip dengan si Bunga. Akurasinya? Cukup saya bilang: ga jelek lah!
Nah, di S2 sekarang ini saya berencana membuat thesis seputar pengenalan wajah juga, tetapi belum dapat gambaran secara spesifik apa yang mau dibuat. Kemarin salah satu dosen juga sudah mencoba memberi arahan, dan sampai sekarang masih saya pertimbangkan dulu. Bagi Anda2 yang tertarik dengan pengenalan wajah, mungkin dapat melihat salah satu contoh produk yang dibuat oleh Aurora, yang diberi nama Aurora Clockface +. Aurora Clockface + adalah sebuah mesin yang berguna sebagai ‘tukang absensi’ karyawan. Katanya sih, mereka mampu melakukan verifikasi terhadap lebih dari 900 karyawan hanya dalam waktu kurang dari 19 menit. Videonya dapat dilihat di sini.
Hmmm…. Saatnya cari2 referensi, memutar otak, berkreasi, dan -kalau boleh mengutip kata2 Pak Romi Satria Wahono- mari berdjoeang!!