Loop Pada VLC di Ubuntu 9.10
Saya baru-baru ini meng-install Video LAN Player (VLC) di Ubuntu 9.10 saya. Secara keseluruhan, kinerjanya baik-baik saja. Akan tetapi, ada satu hal yang cukup mengganggu, karena saya tidak menemukan konfigurasi untuk membuat proses pemutarannya berjalan berulang-ulang (loop). Saya coba cari-cari lewat Google, ada yang bilang bahwa kita harus menggunakan tombol loop from point A to B continuously. Dengan menggunakan tombol ini, kita harus menentukan titik A (titik akhir pemutaran) dan titik B (titik awal pemutaran) sehingga dapat diputar terus-menerus tanpa henti. Cukup repot juga. Padahal untuk VLC di Mac sudah langsung ada konfigurasinya untuk hal ini.
Setelah saya oprek-oprek sendiri, ternyata ketemu juga jawabannya. Saya masuk ke bagian hotkeys. Saya lihat di sebelah bawah ada hotkeys untuk loop, yaitu dengan menekan tombol “L” di keyboard. Saya coba, ternyata berhasil. Akan tetapi, tidak ada indikator yang menyatakan bahwa loop sedang aktif atau tidak. Hmmm… Atau ada sesuatu yang saya lewatkan ya? Apa ada yang tidak terlihat? Yah, walaupun begitu, untuk sementara ini, masalah terpecahkan.
Semut
Belakangan ini semakin banyak saja semut di rumah saya. Mereka ada di mana-mana. Di meja makan, di gelas kopi, di tong sampah, bahkan di kamar mandi. Sepertinya mereka semakin membabi buta dalam mencari makanan, sampai-sampai daerah yang biasanya tidak ada semut pun sekarang sudah jadi “daerah kekuasaan” mereka.
Manusia pada jaman purbakala menyeberang pulau untuk mencari bahan makanan baru. Karena ada manusia yang menyeberang itulah, wawasan manusia bisa bertambah luas. Apakah semut ini juga mulai berpikir seperti itu? Apakah mereka mulai berpikir di luar kebiasaan mereka? Seandainya mereka benar seperti itu, dengan disiplin dan kekompakan mereka dalam koloni, mungkin mereka bisa lebih maju dari manusia dalam beberapa tahun lagi. Hehe…
Hari Cepat Berlalu
Hari-hari memang cepat berlalu. Hal ini terbukti ketika saya untuk beberapa waktu tidak menulis sesuatu di blog ini. Sewaktu ingin menulis kembali, kelihatan bahwa sudah beberapa hari terlewat tanpa ada penambahan artikel. Hmm… Tidak sering-sering menambah artikel di blog bukan hal yang krusial buat saya. Yang jadi masalah adalah cepatnya hari berganti. Bagi yang menulis blog, pernahkah Anda perhatikan kapan Anda terakhir kali menulis sesuatu di blog Anda? Jangan-jangan sudah setahun yang lalu.
Tidak terasa ini sudah mendekati akhir bulan Januari 2010. Padahal di awal Januari kemarin, saya berpikir di bulan ini saya bisa berbuat banyak. Entah itu di tugas kuliah, di kegiatan sehari-hari atau apapun. Ternyata, tidak banyak perkembangan yang saya peroleh. Walah…
Meskipun tidak banyak, saya merasa bahwa tetap saja masih ada kemajuan. Jadi tidak di situ-situ saja. Mudah-mudahan semua yang ditargetkan bisa segera tercapai. Masih banyak hal lain yang menunggu giliran untuk dikerjakan. Kasihan nanti kalau mereka sempat menunggu terlalu lama… Hehe…
Bakpao Medan
Kemarin, di simpang rumah saya melihat ada orang yang jualan bakpao. Di situ ditulis ‘Bakpao Medan’. Hmm… Apa iya ini sama dengan bakpao di Medan? Saya soalnya tahu persis gimana bentuk dan rasanya bakpao di Medan. Hehe… Jadi, saya coba datang ke si Mas yang jualan. Ternyata, yang dia sediakan ada 4 pilihan, yaitu:
- Bakpao isi daging ayam
- Bakpao isi daging sapi
- Bakpao isi kacang ijo
- Siomay
Loh, kok tiba-tiba ada siomay? Bakpao ya bakpao saja dong.
Pilihan rasanya juga tidak sama persis dengan di Medan. Tidak ada isi kacang hitam. Padahal itu lumayan enak. Dan ada satu isi lagi yang tidak ada dia jual. Memang, ‘itu’ susah dijumpai di kota Bandung ini. Hihihi… Isi apa? Ada deh… Orang Medan pasti tahu.
Sudah itu, dikasih sambal pula. Walah… Saya tidak pernah tahu kalau makan bakpao itu pakai sambal. Baru di sini saya tahu. Padahal tulisannya ‘Bakpao Medan’. Hehe…
Soal rasa, ya oke lah. Tidak terlalu mantap juga. Kalah sama yang di Medan. Soal harga, per potong itu Rp. 6000. Saya lupa di Medan berapa harganya. Tapi sepertinya untuk ukuran rasa seperti itu, sepertinya kemahalan ya? Yah… Begitulah. Makanan di Medan memang susah dikalahkan kalau soal rasa. Walaupun banyak yang buat embel-embel ‘Medan’ di belakangnya, tetap saja tidak mencerminkan makanan Medan aslinya.
Takut Memulai Nge-Blog
Kadang-kadang sewaktu ada pembahasan tentang memulai aktivitas nge-blog, sering keluar kalimat:
Saya takut mulai nge-blog. Takutnya tidak bisa konsisten nulis.
Hmm.. Saya pikir, memangnya kenapa kalau tidak konsisten ya? Memangnya kalau buat blog, ada kewajiban untuk memasukkan tulisan baru tiap hari? Apakah memang tiap hari ide itu datang? Saya pernah baca blog seorang dosen yang sebenarnya jarang diperbaharui. Tetapi ketika muncul tulisan baru, kualitas tulisannya benar-benar kelas atas. Hehe… Salut.
Nge-blog kan berbeda dengan menulis sebagai kolumnis di koran atau sejenisnya. Kalau kita nge-blog, kan tidak ada yang berteriak-teriak mengingatkan tenggat waktu publikasi. Ya tidak? Jadi, kenapa takut memulai nge-blog dengan alasan tidak konsisten? Jika hanya satu saja pun artikel kita di blog, tetapi artikel tersebut bermanfaat untuk banyak orang, sehingga banyak yang mampir tiap hari untuk membacanya, tentunya kita sudah melakukan sesuatu yang positif kan?
Kebebasan Berpendapat (Oh Ya?)
Kadang-kadang, saya ketemu sama orang yang mengkritik orang lain. Ketika kritiknya itu dikritik balik, dia bilang
Loh, hargai dong kebebasan berpendapat…
Padahal di awalnya, dia mengkritik orang lain. Hmm.. Yang tidak menghargai kebebasan berpendapat itu siapa, kalau begitu?
Ah, lagi-lagi itu cuma kalimat-kalimat klise yang beredar di pasar. Semua orang suka ngomong yang terlihat keren di mulut saja. Lagi-lagi, diam jauh lebih baik. Kalau kita diam saja, gimana mungkin omongan kita bertentangan dengan yang kita perbuat? Kan kita cuma diam. Lagipula, ribut sama tukang ribut tidak ada gunanya bukan?
Upgrade Ubuntu 9.04 ke 9.10
Saya baru saja meng-upgrade Ubuntu saya dari 9.04 ke 9.10. Setelah di-upgrade, ternyata banyak masalah. Masalah pertama adalah tampilannya yang hanya berupa tampilan terminal, tanpa GUI. Saya masukkan perintah
startx
hasilnya hanya keluar tampilan layar hitam dan mouse pointer yang tidak bisa digerakkan. Saya coba restart, dan jalankan lagi, ternyata jadi error. Pesannya adalah
Kernel Panic - Not Syncing VFS: unable to mount root file system
Lalu saya coba jalankan kernel 1 versi di bawah kernel yang sedang jalan sekarang. Hasilnya? Bisa masuk sih, tapi tetap di tampilan terminal. Lalu saya coba masukkan perintah
sudo dpkg --configure -a
Setelah perintah tersebut dijalankan, saya bisa masuk ke GUI. Hanya saja, mouse pointer tidak jalan. Hmm… Saya lalu coba ke kernel versi terakhir, yg tadi di awal-awal sama sekali tidak jalan. Ternyata sekarang sudah jalan, dan mouse pointer juga sudah bekerja baik. Langsunglah saya buka Synaptic Package Manager, lalu saya lakukan proses update agar tidak ada lagi masalah-masalah yang lain. Baguslah. Besok mau ujian, soalnya. Kalau laptop bermasalah, gawat juga…
Selamat Tahun Baru 2010
Selamat tahun baru 2010…
Semoga segala yang dicita-citakan di tahun yang baru ini dapat terlaksana dengan baik dan kita juga senantiasa berada di dalam berkat-Nya.



